Masih ingatkah kau tentang filosofi hujan?
Yang dulu seringkali kau dan aku perbincangkan
Saat langkah kita terhenti di teras depan
Menadahkan tangan, meresapi dinginnya guyuran kehidupan
Lalu menatap lengangnya jalan, yang tiap cekungnya penuh genangan
Kau, aku, dan hujan...
Ku harap kau seperti teduh, yang selalu hujan tinggalkan saat ia berlalu
Atau seindah pelangi, yang bias warnanya selalu tampak menawan
Begitulah hujan, selalu istimewa
Menyulam pikiran, mengurai ingatan, menayangkan perasaan
Dan aku menyebutnya sebagai kenangan...
¾ I. N. K.